Berita

Kuliah Umum via IG Live pada Mata Kuliah Jurnalistik Televisi

Admin 27 May 2020
Yogyakarta - Kak Wisnu Wardhana, alumnus STIKOM Yogyakarta prodi Penyiaran angkatan 2000, telah menjadi wartawan MNC sejak tahun 2006, dimulai dari TPI (kemudia berganti nama menjadi GlobalTV), RCTI dan kini iNews. Ia bertugas di wilayah Semarang, atau sebutan khususnya adalah kontributor (wartawan daerah). Semarang sebagai ibu kota Jawa Tengah memiliki banyak aspek untuk diliput, mulai dari pemerintahan, politik, isu korupsi, perkotaan, dan saat ini, yang paling menarik untuk diberitakan adalah isu kesehatan di tengah kondisi pandemi Covid-19. Meskipun sudah kaya dengan pengalaman liputan, namun seperti wartawan yang lain, meliput berita seputar corona adalah hal baru bagi Kak Wisnu. Musuhnya adalah virus yang tidak terlihat, maka disiplin merapkan protokoler kesehatan wajib dilakukan. “Ya sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan pemerintah, harus pakai masker, menjaga jarak, dan cuci tangan. Sebenarnya saya punya face shield yang dari kaca plastik itu, tapi kurang nyaman digunakan, dan kesannya kok gimanaaa gitu, jadi cukup masker saja.” Sedikit cerita tentang kondisi di Semarang selama wabah Corona ini menurut Kak Wisnu masyarakat cukup santai. Jalanan ramai kendaraan berlalu lalang seperti tidak ada apa-apa. Nah, ada kalanya kak Wisnu juga harus meliput kondisi masyarakat yang berjubel di tengah kondisi wabah, atau meliput ke rumah sakit. Untuk tetap menjalankan tugasnya, tentu wartawan butuh strategi khusus agar tetap mendapatkan berita sambil menjaga keselamatan diri. Menjaga jarak adalah kuncinya. Jika penugasan dari kantor terlalu membahayakan nyawa, sebisa mungkin wartawan bisa mencarikan solusi alternatif lain, atau bahkan menolaknya. “Tidak ada berita seharga nyawa” demikian Kak Wisnu mengutip pernyataan jurnalis senior Karni Ilyas saat wartawan SCTV tewas dalam liputan evakuasi bangkai Kapal Livina tahun 2007. Pernyataan tersebut hingga kini menjadi acuan dalam wartawan melaksanakan safety journalism. Kak Wisnu merasa cukup beruntung karena pihak redaksi tempatnya bekerja justru ‘ngeman’ alias cukup sayang dengan wartawan lapangan. Seperti misalnya tugas wawancara nara sumber, jika redaksi masih bisa melakukan live streaming dengan nara sumber, maka wartawan tidak perlu turun. Sedikit cerita tentang karir jurnalisnya, ketertarikan kak Wisnu berawal dari kecintaannya pada kamera sejak kuliah di prodi Penyiaran STIKOM Yogyakarta. Setiap ada tugas praktikum atau praktik lapangan, ia selalu memilih jadi kameraman. “Dulu saya lihat orang bawa kamera tuh kayaknya keren, gagah banget. Padahal saya juga gak ngeti-ngerti amat jurnalistik, nggak ada keinginan jadi wartawan, pokoknya pingin bawa kamera, biar gagah, biar keren”. Ternyata lucu juga motivasinya ya, tapi pada akhirnya profesi wartawan memberi banyak kesempatan pada Kak Wisnu, termasuk menjadi juara Lomba Jurnalistik Jateng tahun 20016, 20017, 2018, dan terakhir juara 1 di tahun 2019 yang membawanya menjadi peserta Short Course di Lasalle College of Arts Singapore. Keuntungan utama menjadi wartawan adalah kemudahan akses, termasuk bertemu orang-orang yang tidak mudah dijumpai jika kita bukan wartawan. Seperti misalnya pejabat dan orang terkenal. Pengalaman paling berkesan bagi Kak Wisnu adalah saat meliput bencana, ternyata dari hasil liputannya, warga bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah dan pemirsa. Ada kepuasan yang tak tergantikan profesi lain. /rk
© Copyright Stikom Yogyakarta 2019